ternyata Indonesia pernah ikut Piala Dunia juga ya…!@#$?

FIFA Akui Indonesia Sebagai Peserta Piala Dunia

Rabu, 06 April 2011 09:04 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, ZURICH—Kendati saat itu masih bernama Hindia Belanda, Federasi Sepak Bola Dunia FIFA tetap mengakui Indonesia sebagai salah satu peserta piala dunia tahun 1938. Di laman resmi FIFA, Indonesia tercatat sebagai salah satu Negara di dunia yang pernah berpartisipasi di ajang sepak bola paling prestisius  di dunia tersebut. Capaian inilah yang merupakan satu-satunya prestasi Indonesia yang didokemntasikan di situs FIFA.
Dalam keikutsertaannya tahun 1938, Indonesia (Hindia Belanda) hanya menjalankan satu pertandingan, yakni saat berhadapan dengan tim tangguh Hongaria. Dalam pertandingan itu, Indonesia kalah telak 0-6. Di piala dunia tahun 1938, Indonesia diperkuat campuran pemain lokal, keturunan Tionghoa, dan Belanda.

Para pemain yang memperkuat Hindia Belanda, di antaranya adalah penjaga gawang Mo Heng , Sutan Anwar, Achmad Nawir. Saat tampil di piala dunia, bukan Indonesia Raya yang berkumandang, melainkan lagu kebangsaan Belanda.
Keikutsertaan di Piala dunia Prancis 1938 merupakan kali terakhir Indonesia tampil di Piala Dunia karena hingga kini tim Garuda selalu gagal masuk putaran Final. Dalam empat kualifikasi piala dunia terakhir, Indonesia bahkan gagal di babak awal kualifikasi.

Kini babak kualifikasi Piala Dunia 2014 Brasil telah menjelang. Indonesia dijadwalkan bertemu Turkmenistan di babak ke dua kulifikasi. Jika berhasil melewati Turkmenistan, bukan berarti pekerjaan mudah bagi Boas Solossa cs untuk melangkah ke Brasil.
Tim nasional harus melewati putaran ketiga dan keempat yang memakai sistem grup. Hanya peringkat pertama dan kedua grup (final zona Asia) yang langsung lolos ke Brasil. Sedangkan peringkat tiga terbaik mendapat kesempatan melakoni laga Playoff melawan juara zona Oseania.

Muslim Radikal, Ulasan Favorit Media AS

Kamis, 03 Maret 2011, 15:32 WIB

 

REPUBLIKA.CO.ID,  NEW YORK – Selasa pekan lalu, tokoh Muslim yang dikenal radikal sekaligus provokator, Anjem Choudary, berencana melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Putih. Ia berniat menyerukan penerapan hukum syariah di tanah Amerika Serikat.

Apakah protes itu bakal digelar atau tidak, bukan menjadi hal penting bagi sejumlah pengamat dan tokoh Muslim di negara itu. Yang menjadi masalah adalah aksi macam itu cenderung menjadi santapan dan propaganda sejumlah media untuk mencitrakan Islam.

Choudary, yang dikenal memuja terorisme dan menyerukan hukum rajam bagi para gay serta sering mengolok pemerintah demokratis di dunia, berulang kali terlihat di Fox dan CNN serta memunculkan bermacam artikel di media aliran sayap kanan. Bahkan seorang anggota Kongres sempat mengusulkan pelarangan pemberian visa secara permanen kepada Choudary.

Ironisnya, lelaki bertempat tinggal di London itu memang sudah lama menghiasi wajah media Inggris sebagai tokoh radikal Islam, terlepas dari fakta bahwa ia tak memiliki kredibilitas agama dan juga tidak ada dukungan publik.

Ketika  Choudari diwawancara pekan lalu. Ia menolak mendiskusikan seberapa besar pendukung yang ia punya usai mengklaim akan mendatangkan 150 orang saat demonstrasi. “Saya tidak akan memberi detail urusan administrasi kami,” ujarnya.

Media yang kerap meliput pun terutama dari tabloid golongan sayap kanan, News Corp yang dimiliki Rupert Murdoch–notabene juga pemilik Fox News

“Ia adalah pelacur media,” ujar Mehdi Hasan, redaktur senior di New Statesman yang pernah meliput Choudary. “Memang ada grup Islamis yang dapat mengumpulkan masa tapi dia tidak termasuk. Ia tak memiliki cukup pendukung untuk mengklaim gerakannya,. Yang ia lakukan selama ini adalah berhubungan dengan media dan ‘bermain’ dengannya,” ujarnya.

Kini di AS, Choudary, menggunakan jurus yang serupa–membuat pernyataan gamblang bernada menyerang dan menyuarakan rencana provokatif, di mana media antusias untuk mengakomodasinya. Menurut Salon, majalah online AS, ia adalah analogi Muslim dari Terry Jones, pendeta Florida yang memercikkan kontroversi internasional tahun lalu dengan rencana “Hari Pembakaran Al Qur’an”.  Terry, tulis situs online tersebut, adalah radikal tanpa dukungan publik. Namun siapa pun dia, bila mendapat cukup ruang di media maka mampu menciptakan kerusakan di dunia nyata.

Bulan lalu dalam sebuah tayangan di Fox, Sean Hannity–pembawa acara stasiun TV itu melakukan dialog dengan Choudary. Acara diakhiri dengan komentar Hannity yang menyebutnya “sakit dan menyedihkan”. Lagi-lagi perlu dicatat Fox memiliki induk yang sama dengan tabloid di Inggris yang obsesif mengulas Choudary.

Dua pekan kemudian, Choudary muncul di jaringan tersebut dengan pembawa acara Gretchen Carlson yang berkata padanya, “Saya beri tahu anda satu hal, warga Amerika tidak menginginkan  hukum syariah.”

Lalu host Fox yang lain, Adam Serwer juga berdebat dengan Choudary seraya berkomentar, menurut Fox, sosok Choudary adalah “badut kartun yang bisa diandalkan untuk mengonfirmasi setiap stereotip tentang Islam dan Muslim.”

Ternyata bukan hanya Fox. Akhir tahun lalu, Elliot Spitzer, dari CNN mengundang Chuodary tampil dan secara heroik mencemoohnya sebagai ‘teroris yang keji dan kasar’.

Lucunya, pada Februari, lagi-lagi Spitzer menjadikan Choudary bintang tamu untuk berdebat mengenai apakah revolusi di Mesir adalah “kebangkitan Islam”. Tak hanya itu, Choudary juga telah beberapa kali nongol di siaran ABC yang dipandu Christiane Amanpour, dan–lagi–acara CNN dibawakan Fareed Zakaria.

Fenomena Choudary dianggap sebagai sikap kemalasan media yang tidak bertanggung jawab terhadap tema Islam. Menurut pengamat terorisme AS, Daveed Gartenstein-Ross, salah satu pelajaran dari tokoh macam Terry Jones yang hendak membakar Al Quran, adalah ketika tokoh pinggiran, benar-benar marjinal, diberi ruang besar dalam media.

“Alih-alih memadamkan, justru sikap media menguatkan pengaruh mereka,” ujarnya. “Sayangnya media tidak juga belajar dari pengalaman itu, atau mereka memang tidak mau.”